Translate

Anak yang Selalu Dihindarkan dari Rasa Takut Rentan Gangguan Kecemasan

• ParadiseBOX



(Foto: Thinkstock)
Jakarta, Wajar bagi orang tua yang melindungi anaknya dari rasa takut terhadap suatu hal seperti kegelapan, suara petir, atau orang asing. Tetapi menghindarkan anak dari situasi yang menakutkan tersebut dapat membuat anak cenderung memiliki gangguan kecemasan di kemudian hari.

Menurut temuan baru dari Mayo Clinic yang diterbitkan bulan Maret ini dalam jurnal Behavior Therapy, peneliti menegaskan bahwa anak-anak yang selalu dihindarkan dengan situasi yang menurutnya menakutkan, akan lebih cenderung mengembangkan gangguan kecemasan.

Studi tersebut dilakukan dengan mengukur tingkat kecemasan terhadap lebih dari 800 anak berusia 7 sampai 18 tahun. Peneliti juga melakukan survei terhadap orangtua dan anak-anaknya apakah anak mengembangkan perilaku menghindar.

Kebanyakan anak-anak menjawab pertanyaan peneliti dengan pernyataan seperti, "Saya menghindari hal-hal yang membuat saya takut" dan "Saya meminta orang tua dan orang-orang di sekitar saya untuk menjaga saya dari hal-hal yang menakutkan".

Peneliti kembali melakukan tindak lanjut penilaian sekitar satu tahun kemudian dan menemukan bahwa anak-anak yang selalu menghindari hal-hal yang membuatnya takut lebih cenderung memiliki gangguan kecemasan klinis.

"Perilaku menghindar jangka panjang mungkin dapat berbahaya karena membuat anak-anak tidak dapat belajar bahwa situasi mungkin belum seburuk yang mereka pikirkan," kata Stephen Whiteside, seorang psikolog anak di Mayo Clinic, yang memimpin penelitian tersebut, seperti dilansir Global and Mail, Sabtu (16/3/2013).

Hal ini dapat membuat anak-anak tidak mampu belajar menangani situasi yang menantang dan membuatnya merasa cemas. Meskipun ketakutan, kekhawatiran, dan rasa malu adalah hal yang normal, kecemasan dapat menjadi gangguan dalam menjalankan aktivitas normal sehari-hari.

Whiteside memperkirakan bahwa hanya 30 persen dari anak-anak dengan kecemasan saja yang mendapatkan bantuan. Sebuah survei terbaru yang dilakukan oleh Toronto District School Board menunjukkan bahwa remaja yang mengalami gangguan kecemasan, merasa lebih khawatir tentang masa depan.

Lebih dari setengahnya mengatakan bahwa kekhawatiran tersebut menyebabkan dirinya kesulitan tidur dan hampir satu dari tiga peserta survei mengatakan perasaan ingin menangis. Whiteside mencatat bahwa anak-anak tersebut memerlukan terapi perilaku kognitif, yang berfokus pada penurunan perilaku menghindar, yang merupakan intervensi efektif untuk kecemasan.

Terapi ini bekerja dengan mengekspos anak-anak untuk hal-hal yang membuatnya takut dan secara bertahap membantu menghadapi ketakutannya. Jika seorang anak takut anjing, misalnya, terapis mungkin membawa anjing ke sesi terapi dan perlahan-lahan mendorong anak untuk menghabiskan waktu dengannya.

Dalam studi Mayo Clinic selanjutnya, 25 anak-anak dengan gangguan kecemasan diminta mengikuti 7 sesi terapi perilaku kognitif selama 7 sampai 9 minggu. Pada akhir masa studi, skor penghindaran terhadap hal hal yang membuatnya takut menurun hingga setengahnya.

• ParadiseBOX

0 comments:

Post a Comment

For friends of bloggers who frequently read articles in this blog, please Copy / Paste and share it anywhere you like. However, if acceptable please indicate the source of the articles link blogger friend share (copy / paste). Let Share information for us all, because now the information is easily obtained, and this blog is one source of reliable information, becauseof the already trusted sources,


Reading is one of the best ways to get information
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...