Translate

Showing posts with label seputar Indonesia. Show all posts
Showing posts with label seputar Indonesia. Show all posts

“Orang Pendek” Sumatera: Manusia atau Kera?

• ParadiseBOX


VIVAnews--Hampir setiap hari para polisi hutan di Taman Nasional Way Kambas, Lampung, berjalan kaki menyusuri hutan perawan di wilayah seluas 125 ribu hektar. Itu tugas rutin, berpatroli mengawasi tiga area besar taman konservasi, Way Kanan, Way Bungur, dan Kuala Penet.  Setiap area itu dibagi lagi menjadi empat resor. 
Mereka menjaga taman nasional dari pembalakan liar, atau perburuan liar. Hutan di Way Kambas adalah tempat konservasi badak, harimau sumatera, dan juga gajah. Di sana bahkan ada sekolah gajah pertama di Indonesia.

Sekali patroli, para polisi hutan itu bisa berjalan kaki selama dua pekan, atau bahkan sebulan. “Mereka membawa makanan, dan juga tenda”, ujar juru bicara Taman Nasional Way Kambas, Sukatmoko kepada VIVAnews.   

Tapi satu regu patroli di resor Rawa Bunder, Way Kanan, menemukan hal mengejutkan pada Ahad, 17 Maret 2013 lalu. Di petang hari itu, di saat tubuh mulai lelah, tujuh polisi hutan terperangah: ada sekelompok makhluk mirip manusia namun ukurannya lebih kecil melintas di rawa.

Mereka sontak terkesiap. Para polisi hutan dan kelompok “orang pendek” itu berhadap-hadapan dengan jarak sekitar 30 meter.  Kaget, dan tak menyangka bersua makhluk aneh, para polisi hutan itu terpacak diam. Hening. Sekejap kemudian, gerombolan “orang pendek” itu berlari masuk ke dalam rimbun hutan. Hilang.

Barulah para polisi hutan sadar, seharusnya mereka mengabadikan gambar “orang-orang pendek” itu. Mereka hanya bisa mengingat “orang-orang pendek” itu bertelanjang, sebagian memegang kayu berbentuk tombak, dan bahkan ada yang menggendong bayi. Diduga saat itu, mereka sedang mencari ikan atau mencari air minum.

Penasaran dengan apa yang mereka lihat, tiga hari kemudian, grup itu kembali berpatroli di tempat sama. Tim sengaja memilih waktu persis saat mereka bertemu makhluk aneh, menjelang malam. Dan betul, “orang-orang pendek” yang dihitung lebih dari sepuluh orang itu terlihat lagi. “Suasana dan lokasinya sama saat petugas patroli melihat yang pertama dan yang kedua,” kata Sukatmoko. Namun, lagi-lagi, polisi kalah cepat memotret mereka.

Dari penampakan kedua ini, tim memastikan, penampilan “orang-orang pendek” itu seperti manusia purba. “Mereka tidak memakai baju, berambut gimbal panjang dan memegang tombak kayu panjang. Tidak bisa juga dibedakan yang masih dewasa atau anak-anak, namun petugas kami melihat ada di antaranya seperti yang perempuan sedang menggendong bayi,” Sukatmoko menambahkan.

Hari itu juga, polisi hutan Taman Nasional memasang 15 kamera pengintai bersensor inframerah di sekitar lokasi itu. Kamera ini biasa digunakan untuk menangkap gambar aktifitas satwa liar, dan bisa menangkap objek bergerak yang melewatinya baik siang maupun malam.

“Nanti kalau sudah ada bukti secara visual kami baru bisa bicara. Karena selama ini kami hanya mengandalkan bukti penglihatan mata petugas, maka kami saja belum berani melaporkannya ke kementerian kehutanan secara resmi,” kata Sukatmoko.

Ini sebetulnya bukan kali pertama “orang-orang pendek” itu terlihat. Pada 1995, satu regu pendaki di Gunung Singgalang pernah bersua dengan makhluk serupa yang dilihat para polisi hutan di Way Kambas.  Denni, seorang anggota pendaki itu, menghubungi VIVAnews setelah berita temuan “orang-orang pendek” itu dimuat di media. “Saya pernah melihat ‘orang pendek’”, ujarnya.

Dia berkisah, pada suatu pagi,  dia mendaki gunung setinggi 2.887 meter itu. Sekitar pinggang gunung, di sebuah kawasan yang agak datar, tiba-tiba Denni dan temannya kaget campur takjub melihat sepasang makhluk seperti monyet tapi berjalan dengan dua kaki. Tangannya mengayun khas seperti manusia. “Bulunya berwarna emas, berjalan tegak, berpegangan tangan,” kata Denni. Denni dan temannya berhenti berjalan, lalu mengamati.

Tinggi makhluk tak berekor itu sepinggangnya atau kira-kira 1 meter. Sepasang makhluk itu berjalan kira-kira 30 meter di dekat mereka berdua. Semua badannya berbulu, kecuali mukanya. Bulu di kepalanya sedikit lebih panjang. “Mukanya agak rata,” kata Denni.

Meski perawakan seperti manusia, namun bulu tipis di sekujur badannya membuatnya tampak lebih seperti monyet daripada manusia, kata Denni.

Karena tak pernah melihat makhluk macam itu sebelumnya, Denni yang menenteng kamera saku pun bergerak cepat hendak memotret. Namun seperti tahu mau dipotret, kedua makhluk itu bergerak lebih cepat, menghilang di balik rimbun pepohonan. Dia gagal mengambil gambar dari temuan langka itu.

“Orang Pendek” Kerinci

Tapi Deborah Martyr, perempuan peneliti asal Inggris yang beberapa kali menyaksikan ”orang pendek” di Taman Nasional Kerinci Seblat, meragukan makhluk yang dilihat polisi hutan di Way Kambas adalah “orang pendek” yang sama.

Debbie, begitu panggilan perempuan itu, menyatakan “orang-orang pendek” yang dilihatnya di sejumlah hutan di Jambi, Bengkulu dan Sumatera Barat umumnya soliter, tidak bergerombol lebih dari tiga orang.

“Saat melihat ‘orang pendek’, dia hanya sendiri. Tidak pernah saya melihat mereka berkelompok hingga belasan,” kata Pemimpin Tim Fauna & Flora International's Tiger Protection & Conservation Units di Sumatera itu. (Baca juga bagian 4—Wawancara Debbie Martyr)

Perkenalan Debbie dengan “orang pendek” dimulai dari tahun 1989, ketika dia saat itu bekerja sebagai jurnalis sebuah media di Inggris, dan berlibur ke kawasan Taman Nasional Kerinci Seblat yang membentang di empat provinsi yakni Sumatera Barat, Jambi, Bengkulu dan Sumatera Selatan.

Saat itu, Debbie mendengar kisah Orang Pendek. Dia pun penasaran. Namun baru tahun 1994, Debbie bersama Jeremy Holden dari Fauna dan Flora International-IP dan Achmad Yanuar dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia menggelar Project Orang Pendek.

“Awalnya saya juga beranggapan sama, itu hanya mitos. Namun setelah melihat, saya yakin itu bukan mitos,” katanya saat diwawancara jurnalis VIVAnews, Eri Naldi dan Arjuna Nusantara, di kediamannya di Sungai Penuh, Jambi, Rabu 27 Maret 2013.

Debbie pertama kali melihat “orang pendek” tahun 1994 di kawasan Gunung Tujuh dan kemudian di Gunung Kerinci, masih di Taman Nasional Kerinci Seblat. Tahun 1995, saat memasuki bagian Sumatera Barat dari taman nasional itu, di Solok Selatan, kembali Debbie melihat makhluk soliter ini. Tahun itu juga dia kembali menyaksikan makhluk itu di hutan lindung di perbatasan Sumatera Barat dengan Sumatera Utara. Terakhir, pada 1996, Debbie melihatnya lagi di sebuah hutan produksi di Mukomuko, Bengkulu, dan di Tapan, Pesisir Selatan, Sumatera Barat.

Namun tak satu pun yang berhasil dipotretnya. Padahal mereka sudah memakai kamera pengintai paling canggih yang biasa memotret harimau sumatera. Alhasil, tim penelitian ini lebih banyak mengandalkan penelitian berdasarkan pandangan mata saksi, termasuk mereka sendiri.

 “Badannya agak besar, tinggi sekitar 130 cm. Warna kulitnya madu tua, bulu di kepala sedikit tebal. Perawakan wajahnya hampir sama dengan orangutan tapi tidak mirip dengan manusia,” kata Debbie menceritakan ciri-cirinya, mirip seperti yang dilihat Denni di Gunung Singgalang.

Yanuar yang meraih gelar master dari Universitas Cambridge, Inggris, atas penelitian primata di Kerinci ini juga mengalami hal yang sama, hanya bisa melihat namun tak bisa mengabadikan gambar “orang pendek” ini. Bahkan Yanuar lebih dulu melihat “orang pendek” ini daripada Debbie. Kali pertama, seperti diungkapkannya dalam sebuah laporan terkait Project Orang Pendek, adalah di Provinsi Lampung di tahun 1993.

 “Jelas sekali berjalan dengan dua kaki, memperlihatkan ayunan tangannya,” kata Yanuar. “Warna (bulu)nya coklat agak keemasan.”

Meski tak mendapatkan gambar meyakinkan, Project Orang Pendek ini berhasil mengumpulkan spesimen rambut, feses, jejak telapak kakinya, serta bentuk pemukimannya. Rambutnya kemudian ada yang dikirim ke Inggris untuk diekstrak DNA-nya. Jejak kaki juga dicetak, memperlihatkan lekuk seperti telapak kaki manusia, namun lebih pendek, lebih lebar dan jempolnya agak besar dan mencelat.

“Jempol menonjol keluar dan beban sepertinya dibagi rata untuk menghasilkan kombinasi kera besar dan manusia. Saya mencatat beberapa persamaan, berdasarkan bentuk kaki,” Yanuar menulis di laporan riset.

Satu kali, dalam riset lapangan, tim sempat mendapatkan feses segar “orang pendek”. Baunya seperti feses manusia. Analisis atas feses ini, disimpulkan orang pendek itu adalah omnivora meski lebih banyak memakan sayur, buah-buahan dan akar-akaran. Orang pendek juga memangsa serangga seperti ulat pohon dan larva. “Tapi sepertinya dia tidak makan cabai,” kata Debbie lalu tertawa.

Kemudian tim juga mengumpulkan hasil wawancara dengan penduduk yang pernah bertemu makhluk itu. Narasumber ini macam-macam pekerjaannya, 57 persen petani, 18 persen pemburu atau pengumpul gaharu, 14 persen pegawai pemerintah, 4 persen ahli kehutanan dan lainnya sekitar 8 persen.

Ada variasi penampakan “orang pendek” di mata narasumber riset. Ada yang melihatnya berjalan dengan empat kaki, tapi umumnya dua kaki. Tapi semuanya konsisten melihat makhluk ini berjalan di atas tanah, tak ada yang melayang dari pohon ke pohon seperti dilakukan kera, beruk atau orangutan.

Sementara warna bulu di badannya, umumnya berwarna coklat meski ada sedikit yang melihatnya kemerahan atau keemasan. Bulu di kepala lebih panjang dan tebal, sementara di bagian dada dan perut lebih tipis sehingga memperlihatkan warna kulit mereka.

Umumnya mereka ditemui sedang berjalan, kemudian makan, dan sedikit yang bertemu sedang berbaring. Sementara tinggi badan, ada yang melihat di bawah 1 meter, namun ada yang sampai 130 sentimeter. (Lihat Bagian 2—Infografik)

Narasumber ini tersebar di sepanjang Bukit Barisan dari utara Sumatera Barat sampai ke selatan Bengkulu, baik dari dataran rendah sampai pegunungan di atas 1.000 meter di atas permukaan laut. Penamaannya pun beragam.

Di Sumatera Barat, “orang pendek” itu juga dikenal sebagai Si Bigau. Di Jambi sendiri, selain disebut Uhang Pandak (dialek lain dari ‘Orang Pendek’), juga disebut Antu Pandak dan Si Gugu.

William Marsden, yang menghabiskan masa mudanya di Sumatera antara tahun 1754 sampai 1836, sudah menyinggung soal Si Gugu ini dalam bukunya berjudul “History of Sumatra”. Dalam buku edisi tahun 1811, Marsden yang juga dari Inggris menceritakan bahwa di antara Palembang dan Jambi, ada dua suku yang hidup di hutan yakni suku Kubu dan Gugu. Gugu, dijelaskan Marsden, kecil dan berbulu di sekujur tubuhnya.

Seorang warga Sungai Penuh, Kerinci, Iskandar Zakaria, adalah salah satu warga yang percaya dengan keberadaan Orang Pendek. Di tahun 1990-an akhir, Iskandar yang kini berusia 71 tahun melihat betul Orang Pendek. Saat itu, Iskandar memang sengaja menjelajah hutan di kaki Kerinci dengan niat mencari makhluk legenda itu.

Di hari ketiga pencariannya, menjelang Subuh, Iskandar yang saat itu mau buang air besar di pinggir sungai di sebuah perkebunan melihat yang dicari-carinya. Orang Pendek terlihat turun dari bukit menuju sungai. "Saya terkejut dan hanya bisa diam saja. Karena, Uhang Pandak itu berjalan tepat di hadapan saya. Pada saat itu jaraknya hanya sekitar dua atau tiga meter saja dari saya," katanya.
  
"Pada saat melintas di depan saya, Uhang Pandak ini melirik saya. Kejadian itu cepat sekali. Karena, setelah melintas di hadapan saya, Uhang Pandak hilang ke dalam hutan lagi," katanya.
  
Dari pengamatan itulah, Iskandar menyatakan, wajah Orang Pendek sama sekali tidak menyerupai manusia. Sekujur tubuh mahluk dengan ketinggian sekitar 80 sentimeter ini ditutupi bulu seperti orangutan. Dan satu hal lagi, dia berjalan dengan telapak kaki ke depan, bukan terbalik seperti selama ini menjadi mitos di masyarakat

"Tempat tinggal Uhang Pandak ini semak rimbun. Makanannya kulit kayu yang ada di hutan. Karena, dari yang saya temui di sekitar tempat tinggal Uhang Pandak ini banyak bekas kupasan kulit kayu," katanya.

Berburu ‘Hobbit’ di Gua Flores


VIVAnews - Pernyataan Dr. Debbie Argue mencengangkan hadirin di sebuah forum ilmiah. "Kami telah membandingkan (tengkorak) Homo florensiensis dengan hampir semua spesies yang satu gen dengan kita, manusia," ungkap Dr. Argue. "Mereka mirip seperti Australopithecine, yang diyakini sebagai genus Homo sebelum berevolusi jadi manusia modern (Homo sapiens)." 

Argue membeberkan kisahnya satu dekade silam kala mengekskavasi Liang Bua di Flores. Ketika itu, bersama sejumlah rekan dalam tim penelitiannya, peneliti dari Departemen Arkeologi dan Antropologi di Australian National University (ANU) itu menggali jejak keberadaan manusia purba Homo florensiensis yang masih misterius.

Dan mereka nyaris tak percaya ketika menemukan jejak spesies manusia baru, yang diperkirakan hidup pada era Pleistosen itu, atau sekitar 2 juta - 12.000 Sebelum Masehi.

"Kita tahu bahwa Homo florensiensis telah berada di Flores, setidaknya dari 100 ribu tahun hingga 12 ribu tahun yang lalu," ucap Argue. "Tapi bukan tidak mungkin mereka pernah hidup bersama manusia modern. Setidaknya, 40 ribu tahun yang lalu juga ada Homo sapiens yang tersebar di Asia, Papua Nugini, dan Australia.”

"Inilah kenyataannya. Selama ini semua orang berpikir hanya spesies kita yang tersisa dan selamat sejak akhir Era Neanderthal, tapi ternyata tidak," ditandaskan oleh perempuan yang berkutat dengan jagat evolusi manusia sejak 1995 ini.

Semula, temuan Argue tak dipercaya banyak orang, termasuk oleh sejumlah arkeolog yang secara blak-blakan mengecam hasil penelitiannya. Mereka menuding yang ditemukan Argue hanyalah tengkorak manusia modern yang menderita kelainan microcephaly, atau mempunyai tengkorak dan otak berukuran lebih mungil dari standar manusia normal.

Debbie pantang mundur. Dia berteguh pada pendiriannya. Dia yakin temuannya bisa mengubah paradigma arkeologi, menjungkirbalikkan gagasan utama yang hidup saat ini bahwa Homo sapiens adalah satu-satunya gen manusia di Bumi, yang tersisa sejak kepunahan Homo erectus (1,8 juta - 300 ribu tahun lampau) dan Neanderthal (600 ribu - 350 ribu tahun lampau).

"Ini adalah ilmu. Memang bukan bukti definitif, tapi ini hipotesis yang sangat-sangat solid," dia berkukuh. 

Belakangan, pengakuan pun datang. Hasil kerja keras Argue mendapat apresiasi dan dipublikasikan di Journal of Human Evolution.

***

Manusia kerdil. Sebagian ada yang memandangnya dari kacamata skeptis, cuma fiksi, bahkan takhayul. Tapi, banyak juga yang mempercayainya sebagai sesuatu yang nyata. Namun, memang sulit mengungkapkan wujud gen Homo satu ini. Ia masih tersimpan di gudang misteri, lantaran habitatnya tersembunyi di gua dan hutan belantara.

Di Indonesia, koloni orang cebol menyebar di Pulau Sumatera, Sulawesi, dan Nusa Tenggara. Perawakannya pun berbeda-beda. Ada yang berbulu tebal, ada yang tak berdagu. Beberapa di antara mereka telah menyedot perhatian dari ilmuwan asing untuk datang membuktikan apakah manusia kerdil purba benar-benar pernah membangun peradabannya di Tanah Air. Atau, sebaliknya. Itu hanya mitos belaka.

Homo florensiensis

Habitat: Sekitar Liang Bua, Flores, Nusa Tenggara Timur.

Ciri-ciri: Tinggi badan 70 - 140 cm, berkulit gelap, rambut hitam, mata cekung, hidung pesek, gigi besar, berlengan panjang, tidak memiliki dagu, pergelangan tangan menyerupai gorila, dan ukuran kaki sangat panjang.

Spesies ini dikenal juga dengan sebutan Manusia Flores atau Hobbit. Nama itu diberikan para peneliti untuk genus Homo yang memiliki tubuh dan volume otak kecil, dari serial subfosil sembilan individu berbeda yang ditemukan di Liang Bua, Pulau Flores, pada tahun 2001. Kesembilan fragmen itu, yang diberi kode LB1 sampai LB9, menunjukkan ada postur manusia pendek yang tingginya cuma sepinggang manusia modern, atau sekitar 100 cm saja.

Pada September 2003, tim peneliti Indonesia dan tim Australia melakukan ekspedisi lanjutan. Tim Indonesia dipimpin oleh Raden Pandji Soejono dari Puslitbang Arkeologi Nasional dan tim Australia dipimpin Mike Morwood dari Universitas New England.

Pada kedalaman lima meter, tim dikagetkan dengan temuan kerangka mirip manusia tetapi luar biasa kerdil. Tulang-tulang itu tidak membatu, namun rapuh dan lembab. Ada sembilan individu, tapi tak ada yang bagian tubuhnya lengkap. Liang Bua diperkirakan merupakan pekuburan.  
 
Melihat ukuran tengkorak dan tulang, serta kondisi kerangka yang tidak memfosil--juga temuan sisa-sisa tulang hewan dan alat-alat di sekitarnya-- usia seri kerangka ini diperkirakan berasal dari 94 ribu hingga 13 ribu tahun yang lalu, atau sebaya dengan Pithecantropus erectus yang ditemukan di Bengawan Solo, Jawa.

Menurut data Pusat Penelitian Arkeologi Nasional, spesies ini mempunyai volume otak 400 cc; jauh lebih kecil dibandingkan volume otak manusia modern yang 1.400 cc. Namun, meski berotak mungil, mereka tidak terbelakang--justru boleh dianggap jenius. Di zaman itu, Homo florensiensis diyakini bisa memasak, membuat rakit, dan berburu mangsa besar, seperti stegodon atau gajah purba. Hal itu dibuktikan dengan bukti-bukti berupa artefak perkakas berburu yang terbuat dari batu dan kerangka sisa hewan mangsa.

Temuan itu dikukuhkan dengan kenyataan bahwa di sekitar Liang Bua, tepatnya di Dusun Rampasasa, Kabupaten Manggarai, Flores, terdapat koloni penduduk yang berperawakan pendek, dengan tinggi badan maksimal 140 centimeter. 

Mereka juga percaya bahwa fragmen Homo florensiensis yang ditemukan para ilmuwan itu adalah nenek moyang mereka. "Kami yakin mempunyai hubungan keturunan yang erat dengan mereka (Homo florensiensis), walau ilmuwan mengatakan usianya sekitar 18 ribu tahun," ujar salah seorang penduduk bernama Mattias Haru pada Aljazeera.

Namun, kepercayaan penduduk setempat itu dinilai tak berdasar oleh Wahyu Saptomo, arkeolog dari Universitas Gadjah Mada. "Saya pikir itu hanya fantasi mereka. Dari yang kami temukan, mereka bukan Homo floresiensis. Dari ukuran otak dan ciri-cirinya saja berbeda. Mereka sama seperti kita, Homo sapiens."

Kendati peneliti yakin bahwa yang mereka temukan adalah spesies baru genus Homo, sampai saat ini belum ada kajian ilmiah yang membandingkan Homo floresiensis dengan kerangka manusia kerdil Flores yang menderita mikrosefali.

Suku Oni

Habitat: Sekitar Dekko Mappesangka Ponre, 60 km dari kota Watampone, Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan.

Ciri-ciri: tinggi badan rata-rata 70 cm, kulit mirip manusia, wajah keriput seperti orang tua, berbusana primitif dari kulit tenunan kayu.

Berbeda dengan Homo florensiensis, Suku Oni justru masih eksis di zaman modern. Mereka bukan tergolong manusia purba. Fisiknya menyerupai manusia normal, hanya saja berukuran tubuh seperti anak kecil. Hanya sepinggang manusia normal, bahkan lebih kecil.

Suku primitif ini tinggal bersembunyi di gua-gua di pegunungan Bone, Sulawesi Selatan. Konon, hidup mereka hanya bergantung pada buah-buahan yang ada di hutan sekitar pemukiman mereka. Lokasinya terpencil, seperti di Dusun Dekko Mappesangka Ponre, kurang lebih lima kilometer dari pemukiman warga.

Kepada Bugis Pos, Ahmad Lukman Mappasangka, mantan Kepala Desa Ponre, pernah memasuki pemukiman Suku Oni. "Itu adalah ketika saya terpilih sebagai kepala desa untuk pertama kalinya, sekitar 15 tahun yang lalu. Saya diundang oleh kepala suku mereka. Itu pun hanya satu kali. Saya pikir itu adalah bentuk apresiasi mereka terhadap saya sebagai kepala desa baru di wilayah mereka," ujar Ahmad.

Dia mengisahkan Suku Oni tinggal di dalam gua bermulut sempit. Hanya orang berbadan kecil yang bisa masuk ke dalamnya. Namun, di dalam gua, terdapat ruang yang luas dan terang.

"Mereka mempunyai furnitur alam. Ada kursi yang terbuat dari batu, juga perabotan rumah tangga lain, seperti piring, teko, cangkir, dan mangkuk yang bagus. Bahkan ada yang dilapisi emas. Piringnya terbuat dari keramik antik," Ahmad menambahkan. 

Sayangnya, bahasa Suku Oni tidak dimengertinya. "Ketika itu, saya hanya menggunakan bahasa isyarat," kata Ahmad.

Bagi penduduk di sekitar pegunungan dan hutan di wilayah Ponre, keberadaan suku primitif ini sudah lama mereka kenali. Walau dibumbui kisah takhayul, warga di wilayah ini mengaku pernah melihat suku Oni, meski tidak bertegur sapa karena kendala bahasa. Buat sebagian warga yang tinggal di sekitar Desa Palet, Suku Oni bahkan diyakini sebagai makhluk setengah siluman.

Menilik riwayatnya, Suku Oni merupakan salah satu suku asli Bone, Sulawesi Selatan. Dahulu kala, mereka digunakan sebagai pekerja untuk membangun benteng kota dan irigasi kerajaan. Suku ini dikenal ulet, lincah, dan kuat. Menurut Ahmad, tak sedikit dari mereka yang dimanfaatkan sebagai mata-mata Raja Bone saat berperang melawan invasi Belanda.

Beberapa tahun terakhir, warga Suku Oni semakin jarang dilihat penduduk Desa Palet. Pemukiman mereka semakin terpencil dan tersembunyi. Sesekali saja mereka masih terlihat, di tengah malam, hanya untuk mengambil air, sembari membawa ember kayu dan obor. (kd)



 • ParadiseBOX

Justin Bieber kecewa rekaman di Indonesia

• ParadiseBOX


justin bieber
Bieber mengatakan "orang-orang [di Indonesia] tidak tahu apa yang mereka lakukan"
Penyanyi pop remaja dari AS Justin Bieber mengungkapkan bahwa ia merekam satu lagu di Indonesia di tengah kesibukannya menggelar konser di tanah air tahun lalu.
Namun pengalaman merekam lagu berjudul Be Alright itu tidak meninggalkan kenangan manis bagi Bieber.
Dalam wawancara dengan para wartawan di London, Inggris, ia menyebut Indonesia sebagai "random country" yang secara harfiah berarti "acak" dan oleh penutur Inggris digunakan untuk menjelaskan sesuatu yang dianggap tidak memiliki signifikansi.
"Saya berada di satu negara yang random," kata Bieber pada Reggie Yates dari The Voice UK seperti dilansir harian Mirror. Manajernya, Scott "Scooter" Braun menyela dan mengatakan, "Indonesia."
"Saya merekamnya di sebuah studio," lanjut Bieber. "Tempatnya kecil. Mereka tidak tahu apa yang mereka lakukan."
Justin Bieber berada di London untuk meluncurkan album barunya namun acara itu tidak berlangsung lancar.
Penyanyi berusia 18 tahun ini meminta para tamu diperiksa dengan detektor metal sebelum memasuki tempat acara di Supperclub untuk memastikan mereka tidak membawa alat perekam.
Saat Reggie mempersilakannya duduk, ia menolak dan meminta manajernya memutar lagu Believe di komputer.
Ia tiba-tiba menghentikan lagu All Around The World dan dengan jengkel mengatakan, "Lagu itu terdengar sangat buruk."
Reggie kemudian menanyakan tanggapan Bieber yang dibandingkan dengan Justin Timberlake setelah membawakan nada falsetto dalam lagu Boyfriend.
"Saya sama sekali tidak terdengar seperti Justin [Timberlake]," ia menjawab dengan ketus sebelum memperkenalkan lagu As Long As You Love Me.
"Lagu ini sangat bagus tetapi mungkin akan terdengar seperti tinja gara-gara pengeras suara ini."
Di akhir acara, Reggie membacakan pertanyaan dari salah seorang wartawan kepada Bieber.
Sebelum menjawab, Bieber mengejek aksen Inggris Reggie dengan mengatakan, "kata 'think' diucapkan dengan 'th' bukan 'f'"
Sikap kurang bersahabat ini menjadi olok-olok media Inggris. Mirror menulis, "Terimakasih untuk pelajaran pengucapannya, Justin. Kembali saja nanti jika anda sudah dewasa."

• ParadiseBOX

Nyanyian Fatin Shidqia Muncul di Situs Resmi Bruno Mars

• ParadiseBOX


Di YouTube, penampilan Fatin ditonton 500 ribu lebih pengunjung.

Fatin Shidqia Lubis (X Factor Indonesia - RCTI)

Fatin Shidqia Lubis (X Factor Indonesia - RCTI)

VIVAlife - Membawakan lagu Grenade pada ajang musik berbakat XFactor Indonesia menjadi berkah tersendiri bagi Fatin Shidqia Lubis. Situs resmi Bruno Mars (brunomars.com) mengunggah tayangan penampilan perdana Fatin di ajang XFactor Indonesia itu.

Video itu dipublikasikan pada 24 Januari 2013 lalu. Tidak sedikit komentar bagus ditujukan kepada gadis yang baru berumur 16 tahun itu. Mereka menyatakan kagum atas olah vokal Fatin.

Salah satu pengunjung situs Bruno Mars, pemilik akun PeaceNina, menulis kalimat pujian:"Really love her voice... n I love this song so much... great voice! amazing! awesome! wish u luck on X-Factor Indonesia.. lavya Fatin :* Good Luck!! Ganbatte!
Penasaran? Lihat di sini.
Tidak hanya di situs resmi Bruno Mars, sebelumnya Fatin sudah jadi idola di YouTube. Diunggah oleh salah satu fansnya pada tanggal 18 Januari 2013, video itu sudah dilirik lebih dari 500 ribu pengunjung.

Pada penampilan perdananya di XFactor Indonesia pada tanggal 18 Januari 2013 itu, suara Fatin diacungi jempol oleh keempat juri, yakni: Ahmad Dhani, Rossa, Beby Romeo, dan Mulan Jameela. Mereka serempak menyatakan "yess" buat Fatin, yang saat itu tampil masih mengenakan seragam sekolahnya. (umi)
• VIVAlife   |   


• ParadiseBOX

redenominasi 'dengan dangdut dan wayang'

• ParadiseBOX



Mata uang rupiah
Angka nol terlalu banyak 'menilmbulkan persepsi rendahnya nilai rupiah' kata Menkeu.
Pemerintah dan Bank Indonesia memulai agenda konsultasi publik perdananya untuk menggolkan rencana redenominasi mata uang rupiah seiring pengajuan RUU Redenominasi yang telah diterima DPR.
RUU Redenominasi kini menunggu pembahasan DPR namun telah masuk dalam daftar prioritas pembahasan Program Legislasi Nasional (Prolegnas).
Dalam penjelasannya Menteri Keuangan Agus Martowardojo dan Gubernur BI Darmin Nasution mengatakan redenominasi perlu dilakukan karena transaksi keuangan yang makin meningkat membuat jumlah digit mata uang yang digunakan dalam bertransaksi semakin banyak. Kedua pejabat menggarisbawahi munculnya potensi inefisiensi akibat penggunaan angka tersebut.
Menkeu Agus Marto Wardojo menggarisbawahi angka nol yang terlalu banyak pada mata uang rupiah saat ini dibanding mata uang lain juga berpengaruh 'terhadap persepsi rendahnya nilai rupiah' diantara mata uang global.
Sementara Gubernur Darmin Nasution menegaskan tak perlu ada kekhawatiran redenominasi gagal karena Indonesia 'telah memenuhi prasyarat dengan kondisi ekonomi yang stabil beberapa tahun ke depan', tuturnya seperti disampaikan pada publik dan media di Hotel Borobudur Jakarta menandai dimulainya proses sosialisasi.
Humas Bank Indonesia Difi Johansyah mengatakan kunci keberhasilan sosialisasi ada pada pemahaman bahwa redenominasi tidak sama dengan sanering.
"Kalau redenominasi sama dengan mengurangi tiga angka nol di belakang mata uang rupiah sehingga tidak mengubah nilai, tapi kalau sanering jelas pemotongan nilai mata uang," jelasnya pada Dewi Safitri dari BBC Indonesia.
Bank Indonesia menurut Difi optimistis kampanye berhasil karena sudah mulai digulirkan sejak tahun 2010 yang dilanjutkan dengan penyusunan RUU Redenominasi antara pemerintah dibantu BI.

'Pesta rakyat'

Bank Indonesia dalam berbagai pernyataan menyebit redenominasi yang berhasil akan membawa efek positif bagi perekonomian. Selain transaksi jadi lebih ringkas, langkah juga akan berdampak pada terangkatnya sentimen positif pengguna rupiah.
"Itu lihat saja bule kalau datang, sambil pegang uang rupiah dia ketawa 'I am rich, I am rich'"
Difi Johansyah
"Inti pesannya adalah menyetarakan nilai mata uang kita dengan yang lain. Kalau harga satu botol air kemasan di Singapura 1 dollar, di Malaysia 1 ringgit ya disini biar 1 rupiah, kira-kira begitu," kata Difi.
Rupiah selama ini kerap menjadi bahan olok-olok warga asing karena dianggap terlalu 'boros' dalam angka nol.
"Itu lihat saja bule kalau datang, sambil pegang uang rupiah dia ketawa 'I am rich, I am rich'," tambahnya.
Upaya sosialisai akan dilakukan maksimal termasuk dengan pesta rakyat dalam bentuk mulai dari panggung musik dangdut sampai pertunjungan wayang kulit.
"Sasaran utama kita adalah masyarakat yang belum tahu, kurang informasi. Para lansia, pensiunan, petani, mereka ini banyak berada di pedesaan kan."
Sejumlah media menulis untuk kebutuhan kampanye ini, bank sentral akan mengeluarkan dana hingga Rp200 miliar untuk setahun.
Pemrintah mengusulkan masa transisi nilai mata uang baru berlangsung selama lima tahun sehingga mata uang seperti berlaku saat ini baru akan diganti sepenuhnya dengan yang baru pada 2016.
Saat itu diperkirakan pecahan kecil termasuk sen dalam uang rupiah akan muncul kembali setelah selama ini hilang sama sekali dari peredaran publik.
Redenominasi juga pernah dilakukan Turki, Polandia, Ukraina dan Rumania saat hendak bergabung dengan Uni Eropa. Menurut BI langkah negara-negara tersebut sukses ditandai dengan proses yang tanpa gejolak dan keberhasilan memperketat inflasi dibawah 10% per tahun.


 • ParadiseBOX

5 Wali Kota Terbaik di Dunia Versi Worldmayor

• ParadiseBOX


 Situs worldmayor.com baru baru ini mengumumkan beberapa nama Wali Kota terbaik di dunia dan yang menjadi no 1 sebagai Wali Kota terbaik di dunia Adalah Wali Kota Inaki Azkuna, Wali Kota Bilbao, Spanyol semantara gubernur Jakarta Jokowi masuk dalam peringkat ke 3 sebagai Wali Kota terbaik di dunia. Nah kamu mau tahu siapa saja yang masuk sebagai Wali Kota terbaik di Dunia versi Situs worldmayor.com? Simak 5 Wali Kota Terbaik di Dunia Versi Worldmayor berikut ini.

1. Inaki Azkuna, Wali Kota Bilbao, Spanyol
inaki-azkuna-wali-kota-bilbao-spanyol-rev7
Inaki Azkuna menjabat sebagai Wali Kota Balibo pada pada 2009 wali kota Balibo ini terpilih menjadi walikota terbaik sejagad pada tahun 2012 sepertinya penghargaan ini pantas didapatkan oleh Inaki Azkuna selama ia menjabat sebagai Wali Kota Bilbao banyak perubahan yang terjadi di Kota ini pemerintahan berjalan dengan lancar bahakan tingkat korupsi yang terjadi hampir tidak ada selain itu Inaki Azkuna juga berhasil menurunkan polusi di kota ini dengan memindahkan beberapa pusat industri dan kebikajan yang paling fenomenal adalah ketika Inaki Azkuna membangun kembali Museum Guggenheim yang menghabiskan dana Rp 2,2 triliun, museum itu kini menjadi pusat budaya di Spanyol dan menyumbangkan pendapatan besar bagi negara Spanyol.

2. Lisa Scaffidi, Wali Kota Perth, Australia
lisa-scaffidi-wali-kota-perth-australia-rev7
Perempuan berambut pirang ini terpilih menjadi wali kota perempuan pertama di Perth pada Oktober 2007. Dia mengalahkan pesaingnya dengan kemenangan 56 persen suara. Pada Oktober tahun lalu dia kembali terpilih untuk kedua kalinya hingga masa jabatan empat tahun ke depan. Dia menang dengan selisih suara lebih dari 25 persen. Dalam masa jabatan pertamanya, dewan kota pada 2009 memutuskan rencana masa tugas empat tahun bagi siapa pun menjabat wali kota. Perempuan berusia 52 tahun ini gigih memperjuangkan pertumbuhan berkelanjutan bagi kotanya.

3. Jokowi, Wali kota Surakarta, Indonesia
jokowi-wali-kota-surakarta-indonesia-rev7
Jokowi yang kini menjabat sebagai Gubernur Jakarta menjadi wali kota terbaik no 3 pada 2012  saat itu ia menjabat sebagai Wali Kota Solo Selama menjadi Wali Kota Solo Jokowi banyak melakukan perubahan bahkan ia berhasil mengubah derah kriminal menjadi tempat wisata bukan hanya itu saja urusan pemereintahan Jokowi Juka bisa dibilang beerhasil semu urusan birokrasi bis berjalan dengan lancar tidak ada pungli dan biyaya lainya. Selain itu selama menjadi Wali Kota Jokowi juga menolak untuk mengambil gajinya. Jokowi dinilai warganya sebagai Wali Kota yang lebih merakyat ia sering menghabiskan waktu kerjanya berada di lapangan dibandingkan di Kantor.

4. Regis Labeaume, Wali Kota Quebec, Kanada
regis-labeaume-wali-kota-quebec-kanada-rev7
Regis Labeaume terpilih menjadi wali kota pada Desember 2007 lantaran wali kota sebelumnya Andree Boucher meninggal. Dia terpilih kembali pada November 2009 lalu dengan kemenangan hampir mencapai 80 persen suara. Para pemilihnya menyukai kerja keras Labeaume dan gayanya yang sering melawan arus. Pria berusia 56 tahun ini juga disukai karena jujur dan berhasil menyalurkan dana negara ke kota yang dipimpinnya. Selain itu dia juga dikenal lantaran sering mengadakan acara-acara internasional dan sejumlah konser musik di Kota Quebec. Dia menegaskan tak ada korupsi di kotanya dan tak akan memberi toleransi bagi siapa pun yang korupsi di pemerintah kota.

5. John F Cook, Wali Kota El Paso, Amerika Serikat
John F Cook, Wali Kota El Paso
Wali Kota El Paso John F Cook menjabat sebagai walikota selama dua priode, selama menjabat sebagai Wali Kota John F Cook banyak melakukan perubahan di kotanya salah satu nya adalah ia berhasil membuat kotanya sebagai kota yang paling aman di Amerika Seikat tidak hanya itu saja ia juga asuransi kesehatan bagi para pekerja termasuk pasangan gay dan belum menikah. Aturan itu pada 2010 dicetuskan oleh kaum fanatik agama.
sumber: 
• ParadiseBOX

Inggris Protes Warganya Divonis Mati di Bali

• ParadiseBOX


Lindsay divonis mati pengadilan Denpasar karena mambawa 4,7 kg kokain.

ddd
Lindsay June Sandiford ditemani penerjemah pada pengadilan di Bali
Lindsay June Sandiford ditemani penerjemah pada pengadilan di Bali( REUTERS/Stringer )

VIVAnews - Pemerintah Inggris mengecam keputusan Pengadilan Negeri Denpasar yang memvonis mati warga mereka, Lindsay June Sandiford, karena membawa kokain sebanyak 4,7 kilogram. Inggris mengatakan akan berupaya penuh membebaskan nenek 56 tahun ini dari peluru para algojo.

"Kami dengan tegas menolak hukuman mati tersebut dan akan terus memberikan bantuan konsuler pada Lindsay dan keluarganya di masa-masa sulit ini," kata Menteri Negara Kementerian Luar Negeri Inggris Hugo Swire diberitakan BBC, Selasa 22 Januari 2013.

Dia mengatakan anggota parlemen Inggris telah beberapa kali menghubungi pemerintah Indonesia terkait hal ini. Menteri Inggris William Hague, ujarnya, juga telah membicarakan masalah ini dengan Menlu Indonesia.

Swire mengatakan, pemerintah Inggris akan terus mengupayakan keringanan hukuman Lindsay melalui proses banding nanti. "Kami mengerti bahwa berdasarkan hukum Indonesia, Lindsay setidaknya punya dua kali kesempatan banding di pengadilan, dan mengajukan pengampunan dari presiden jika banding tidak berhasil," kata Swire lagi.

Lindsay ditangkap petugas Bea Cukai Bandara Ngurah Rai sesaat setelah mendarat di Bandara Ngurah Rai pada 19 Mei 2012. Dalam penggeledahan, petugas menemukan barang bukti 4,7 kilogram brutto atau 3,8 kilogram netto kokain yang disembunyikan di dinding koper yang dibawanya.
Polda Bali yang melakukan penyelidikan lebih lanjut juga menangkap tiga warga Inggris lainnya, Paul Beales, Julian Anthony Ponder dan istrinya Rachel Lisa Dougall serta satu warga India, Nandagopal Akkineni.

Paul, Rachel dan Nandagopal telah divonis masing-masing 4 tahun, 1 tahun dan 5 tahun. Sedangkan Julian dituntut jaksa dengan hukuman 7 tahun dan dijadwalkan menjalani vonis pada 29 Januari mendatang.

Lindsay menjadi warga negara Inggris ke-12 yang saat ini telah divonis mati di luar negeri. Sebanyak 55 negara Inggris di berbagai negara juga terlibat kejahatan yang ancamannya eksekusi mati. Kebanyakan mereka adalah penyelundup heroin atau narkoba lainnya. (umi)

© VIVA.co.id   |


• ParadiseBOX

Banjir Jakarta Hanya Semata Perkara Teknis?

• ParadiseBOX


Jokowi mengakui ada masalah koordinasi dan kontrol yang lemah.

ddd

 Banjir di jalan antara Monas dan Istana Negara.
Banjir di jalan antara Monas dan Istana Negara.(Antara/ Fanny Octavianus)


VIVAnews - Gubernur Daerah Khusus Ibu Kota Jakarta, Joko Widodo, akan mengevaluasi sistem keamanan dan keselamatan gedung-gedung di Jakarta menyusul munculnya korban jiwa dalam peristiwa banjir di Gedung UOB di Jalan Tosari, Jakarta.
Evaluasi, kata Jokowi, akan dilakukan usai tanggap darurat dilakukan. ??Jokowi, panggilan akrab Joko Widodo, mengatakan, untuk saat ini, pihaknya belum bisa memastikan apakah sistem drainase di Plaza UOB buruk atau tidak.
"Semuanya nanti kami akan atur dan bicarakan lagi setelah banjir rampung," kata dia usai memantau proses pengeringan dan evakuasi korban di lokasi kejadian, Minggu 20 Januari 2013.
Jokowi sendiri belajar dari kasus UOB ini bahwa ada masalah dalam sistem koordinasi. Ke depan, Jokowi meminta seluruh jajaran Pemerintah Provinsi DKI sigap melaporkan perkembangan banjir Jakarta.
“Kalau ada kesulitan di lapangan, segera sampaikan. Jangan sampai tidak telepon karena takut dengan saya,” ujar Jokowi saat memberikan pengarahan kepada Wali Kota, Camat, serta Kepala Dinas terkait tentang pengendalian banjir Jakarta di Balai Kota Jakarta, Minggu 20 Januari 2013.

Seperti diketahui, banjir di Gedung UOB terjadi akibat jebolnya tanggul di Banjir Kanal Barat di jalan Latuharhary sepanjang 50 meter.  Menurut Priskah Susilowati, Asisten Building Manager Pengelola Gedung UOB, pihaknya telah mengantisipasi terjadi banjir melihat permbangan cuaca pada hari Rabu dan Kamis pekan lalu dengan membuat tanggul berisi pasir yang diletakkan di pintu akses masuk dan keluar untuk mencegah air masuk ke dalam gedung.
Namun, dia tidak menduga akan mendapat banjir kiriman akibat tanggul Kanal Banjir Barat di Jalan Latuharhary yang jebol. "Itu benar-benar di luar dugaan kami semua," katanya.
Akibat banjir yang menerobos masuk ke basement Gedung UOB ini, dua orang ditemukan tewas yakni Abdul Arif Agus, pria pekerja cleaning service yang ditemukan tewas di basement 1, Sabtu, 19 Januari 2013, pukul 06.30 WIB dan Hardianto Eko alias Eris, pria pekerjacleaning service yang ditemukan tewas di basement 1, Sabtu, 19 Januari 2013, pukul 16.00 WIB.
Hingga Minggu 20 Januari 2013, air yang menggenangi basement Plaza UOB masih terus disedot. Petugas pemadam kebakaran dan kepolisian pun masih berjaga di lokasi.

Mengapa Jebol?
Jebolnya Tanggul Banjir Kanal Barat di Jalan Latuharhary, selain mengakibatkan banjir di Gedung UOB juga mengkibatkan jalan protokol dan Bundaran Hotel Indonesia terendam air. Bahkan, untuk pertama kalinya sejak bertahun-tahun silam, Istana Negara dilanda banjir.
Jokowi mengakui manajemen kontrol yang lemah menyebabkan tanggul Banjir Kanal Barat di Jalan Latuharhary, Jakarta Pusat, jebol. "Namanya ada tanggul harus dikontrol, ada yang digerus oleh air. Ini harus dicek dan di kontrol terus, manajemen kontrolnya menurut saya yang kurang," ujarnya di Masjid Cut Mutia, Jakarta Pusat, Jumat 18 Januari 2013.

Menurut Jokowi, aliran air akibat tanggul jebol harus segera dihentikan. Supaya air yang menggenang di kawasan elit Menteng dan Jalan MH Thamrin tidak semakin tinggi.
Untuk mengatasi banjir Jakarta, Jokowi memaparkan beberapa usulan di depan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono saat meninjau pengungsi banjir di GOR Otista, Jakarta Timur. 
Pertama, normalisasi Sungai Ciliwung. Pemprov DKI Jakarta sudah menyiapkan anggaran Rp250 milliar untuk program ini, sedangkan untuk pembebasan tanah di Pesanggrahan, Angke, dan Sunter, sudah disiapkan Rp400 miliar.

Kedua, pembangunan Waduk Ciawi dan Waduk Cimanggis untuk membantu mengurangi banjir di Jakarta. Untuk itu, ia berharap pemerintah pusat dapat mendukung dan program ini bisa dikerjakan pada tahun ini.

Ketiga
, pembangunan sistem pompa air di Jakarta Utara, di antaranya di Muara Baru dan Ancol. "Ini agar dipercepat. Tahun ini, pengerukan sungai kecil," ujarnya.

Keempat
, pembangunan sumur resapan dengan kedalaman 4 sampai 200 meter. "Ini kurangi banyak sekali risiko banjir," tambahnya.

Namun, berdasarkan kalkulasi anggaran yang tersedia dan skala prioritas, Presiden akhirnya menyetujui usulan Kementerian Pekerjaan Umum untuk membangun sodetan atau terusan menghubungkan Kali Ciliwung ke Kanal Banjir Timur. Presiden memastikan, proyek raksasa ini selesai pertengahan 2014 nanti.

"Untuk tahun ini yang mendesak adalah membuat terusan atau sodetan Kali Ciliwung ke arah Kanal Banjir Timur," kata Presiden dalam jumpa pers usai rapat penanggulangan banjir Jakarta di Jakarta, Minggu 20 Januari 2013.

Presiden menyatakan, data banjir tahun ini memperlihatkan, ketika Kali Ciliwung meluap, debit air Kanal Banjir Timur masih normal. "Relatif tidak terisi," kata Presiden. "Ini tentu tidak menguntungkan."

Karena itu, Presiden setuju, sodetan Kali Ciliwung menjadi  prioritas tahun ini. Anggaran Rp500 miliar disiapkan. "Ini akan selesai medio 2014, bisa kita mulai segera tahun ini," katanya.

Menanggapi rencana pemerintah mengatasi banjir tersebut, Pengamat Tata Kota Universitas Trisakti, Nirwono Yoga, berpendapat bahwa mengatasi masalah banjir sesungguhnya tidak selalu soal teknis.
Secara keseluruhan, permasalah utama banjir adalah faktor pemeliharaan. Karena sebagian besar tanggul yang ada adalah peninggalan zaman Belanda. Dan itu tidak terperlihara dengan baik.
"Sejak kemerdekaan hingga sekarang, tidak dilakukan perbaikan tanggul dan tidak ada penambahan tanggul baru," kata Nirwono Yoga kepad VIVAnews, Minggu, 20 Januari 2013.

Selain pendekatan teknis, pengendalian banjir harus sudah dilakukan dengan rekayasa sosial. Sudah 40 tahun terakhir pembangunan pengendalian banjir selalu fokus pada rekayasa teknis belaka.

Padahal, kondisi geografis di Jakarta sesungguhnya tidak sama dengan Belanda. Konsep pengelolaan air juga harus dibedakan karena alam di Indonesia, khususnya di Jakarta, berbeda dengan Belanda. "Saluran air, tanggul dan waduk diperbaiki, tapi tidak dilakukan rekayasa sosial," katanya.

Rekayasa sosisal dengan memberikan pendidikan kepada warga tentang cara pandang terhadap hujan dan air sudah seharusnya dilakukan. Masyarakat sudah harus diberi kesadaran agar tidak membuang sampah ke sungai dan saluran air. "Ini yang harus dilakukan sekarang."


• ParadiseBOX

AS Beri Bantuan Bencana Banjir Jakarta Rp1,4 Miliar

• ParadiseBOX


Bantuan itu untuk pengadaan barang, serta pembersihan sisa banjir.

ddd

AS beri bantuan bagi musibah banjir di Jakarta yang merusak kawasan pemukiman dan jalan.
AS beri bantuan bagi musibah banjir di Jakarta yang merusak kawasan pemukiman dan jalan. (VIVAnews/Ikhwan Yanuar)(VIVAnews/Ikhwan Yanuar)

VIVAnews - Pemerintah Amerika Serikat (AS) merasa prihatin dengan bencana banjir yang melanda sejumlah wilayah di Jakarta. Duta Besar AS untuk Indonesia, Scot A Marciel menyampaikan simpati untuk korban banjir Ibukota.

"Kami ingin menyampaikan rasa simpati kami yang sedalam-dalamnya kepada para korban banjir besar yang menimpa Jakarta dan sekitarnya," kata Scot A. Marciel dalam keterangan tertulis yang diterima VIVAnews.

Marciel mengaku tersentuh melihat warga Indonesia yang saling membantu tanpa pamrih. Selain itu, AS juga memberikan apresiasi kepada tim evakuasi dan penanggulangan bencana yang telah bekerja menyelamatkan warga. "Dengan dampak dari Badai Sandy di AS yang masih tersimpan jelas di benak warga Amerika, kami mengerti betapa sulitnya tantangan yang kini sedang dihadapi oleh warga Indonesia, dan kami dengan senang hati membantu," kata Marciel.

Selain itu, AS juga menawarkan bantuan melalui Kantor Bantuan Bencana Luar Negeri AS (Office of U.S. Foreign Disaster Assistance), yang berada di bawah naungan Badan Pembangunan Internasional AS (USAID). AS akan menyediakan US$150.000 atau sekitar Rp1,4 miliar untuk membantu korban banjir Ibukota.

Bantuan itu akan disalurkan melalui Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), pimpinan masyarakat, serta bekerja sama dengan sejumlah lembaga seperti, Mercy Corps, Save the Children, dan World Vision.
Bantuan dari AS akan digunakan untuk pengadaan dan distribusi setempat barang-barang bantuan kemanusiaan, termasuk bahan-bahan yang dapat membantu kegiatan pembersihan sisa-sisa banjir. Sehingga memungkinkan warga yang menjadi korban banjir untuk kembali ke kediaman masing-masing.

Pemerintah AS, kata Marciel, telah bekerja sama erat dengan Indonesia dalam penanganan masalah bencana. Dalam kurun waktu sepuluh tahun terakhir, USAID telah membantu dalam menghadapi bencana banjir di Ambon pada 2012, letusan Gunung Merapi pada 2010, gempa bumi di Padang pada 2009, gempa bumi di Yogyakarta pada 2006, dan tsunami di Aceh pada 2004.


  • ParadiseBOX

For friends of bloggers who frequently read articles in this blog, please Copy / Paste and share it anywhere you like. However, if acceptable please indicate the source of the articles link blogger friend share (copy / paste). Let Share information for us all, because now the information is easily obtained, and this blog is one source of reliable information, becauseof the already trusted sources,


Reading is one of the best ways to get information
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...